Selama berberapa tahun saya selalu mendapat teguran dari nenek maupun orang-orang yang lebih tua di sekeliling saya setiap menghentikan proses menyapu di depan pintu (tanpa membuangnya langsung ketempat sampah). Mereka bilang “ora elok nduk, marai lamaran mandeg ndalan”.
Fikirku bagaimana mungkin hanya karena nyapu mandeg ndalan lamaran seseorang akan terhenti begitu saja ditengah jalan. Saya terus saja mempertanyakannya.
Ndableg memang, saya tidak hanya mempertanyakan mengapa hal tesebut terus menerus. Bahkan saya tetap nyapu mandeg ndalan, karena saya tidak ingin melakukan sesuatu yang tanpa jelas maksudnnya.
Hingga pada suatu hari saat saya mengulang lagi tindakan itu Simbah Rayi ngendikan bahwa hal tersebut akan membentuk pola kerja/pola hidup yang setengah-setengah.
Dan ternyata entah kebetulan atau memang ada teori yang mampu menjelaskannya hal tersebut benar-benar mempengaruhi pola hidup saya. Setiap mengerjakan tugas, saya seakan saya tidak bisa untuk sekedar menyelesaikannya secara tuntas. Dari kegiatan rutin hingga prioritas-prioritas dalam hidup sayapun terbengkalai. Baik mengerjakan tugas kuliah, menghadapi permasalahan pribadi, mencuci pakaian dsb tidak pernah bisa diselesaikan dalam satu waktu.
Dari sini saya dapat berkesimpulan bahwa seremeh apapun aktifitas yang mandeg ndalan dan dilakukan terus-menerus dan berulang-ulang dalam waktu lama ternyata dapat mempengaruhi pola hidup seseorang.
Namun saya belum juga terpuaskan dengan argumen ini, bagi yang dapat memberi kejelasan baik itu psikolog, trainer2 kepribadian dan siapapun yang dapat memberi pencerahan saya tunggu komentarnya.
Pengembangan Teknologi Informasi di Pesantren (Pesantren di Wilayah Timur Jawa Tengah)
Oleh: Naelul Wardah Amroni
A. Pendahuluan
Secara sosio-historis pesantren dipandang sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang didirikan dalam rangka mendidik masyarakat untuk memahami dan melaksanakan ajaran Islam, dengan penekanan terhadap pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman hidup[1].
Secara umum tujuan didirikan pesantren pada dasarnya dibagi menjadi dua, yaitu: tujuan umum, membimbing santri untuk menjadi manusia yang berkepribadian islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi muballigh islam dalam masyarakat melalui ilmu dan amalnya. tujuan khusus, mempersiapkan para santri untuk menjadi orang ahli ilmu agama (lebih dalam ulama) serta mengamalkannya dalam masyarakat[2].
Dalam hal metode pembelajaran dalam pesantren terjadi dikotomi yang luar biasa jauh perbedaanya, yaitu pesantren salaf dan kholaf _modern_. Pesantren salaf sangat identik dengan metode sorogan dan bandongan yang materinya lebih fokus pada ilmu-ilmu keagaaman tanpa disertai kertampilan-ketrampilan yang mendukung di dalamnya. Sedangkan pesantren kholaf sudah menggunakan metode paduan antara ilmu keagamaan sekaligus dibekali dengan berbagai ketrampilan[3].
Pesanten mengemban beberapa peran, utamanya sebagai lembaga pendidikan. Jika ada lembaga pendidikan Islam yang sekaligus memainkan peran sebagai lembaga bimbingan keagamaan, keilmuan, pelatihan, pengembangan masyarakat, dan sekaligus simpul budaya, maka itulah pesantren[4].
Namun seiring perkembangan zaman, pesantren dituntut untuk mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan dan perkembangan disetiap lini kehidupan. Termasuk diantaranya Teknologi Informasi _yakni internet dan untuk berinteraksi dengan perkembangan zaman _ yang sedang banyak dikembangkan di Indonesia . Hal ini semakin tidak dapat dielakan setelah sejumlah pesantren mulai mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Diantaranya menteri komunikasi dan Informasi serta mentri riset dan teknologi yang telah bekerjasama dengan berbagai sponsor, salah satunya Sampoerna Fundation[5].
Pada realitanya banyak pesantren yang sempat menjauh dari Teknologi Informasi _internet_ dengan berbagai asumsi. Namun pada saat ini Pesantren kini dapat lagi menolak kehadiran Teknologi Informasi atau mengelak dari perkembangan yang terjadi. Sebab hal itu akan menjauhkan pesantren dari masyarakat dan membuat pesantren semakin termarjinalkan. Menurut KH. Mad Rodja Sukarta, Filosofi kehadiran pesantren di tengah masyarakat adalah sebagai agen perubahan sosial. Karena itu pesantren harus tampil terdepan dalam mempelopori perubahan untuk kesejahteraan dan kemakmuran kehidupan manusia[6].
Dan saat ini Teknologi Informasi sudah tidak lagi didominasi oleh teknokrat maupun dunia pendidikan tinggi saja. Masyarakat di kalangan menengah ke bawah maupun pendidikan dasar sudah mulai menikmati dan mempelajari IT. Begitu juga dengan pesantren yang sudah banyak mengkonsumsi internet[7].
B. Permasalahan akademik
Dengan adanya bantuan-bantuan semacam itu pesantren yang selama ini diasumsikan sebagai lembaga pendidikan yang eksklusif dharapkan mampu melek teknologi. Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana pesantren mampu menyeimbangkan antara tradisi kepesantrenan yang selama ini menjadi ciri khasnya dan juga Teknologi Informasi yang bahkan sama sekali baru bagi sebagian besar pesantren di Indonesia . Bagaimana dampak Teknologi Informasi _internet_ terhadap pesantren?. Sangat tidak mungkin akan terjadi ketimpangan, misalnya, terdapat materi-materi pendidikan pesantren yang pada akhirnya memudar bahkan hilang dengan datangnya Teknologi Informasi di Pesantren. Sehingga perlu diteliti pula bagaimana mekanisme pengembangan Teknologi Informasi di sana . Sudahkah dikelola sebagaimana mestinya ataukah hanya sekedar fasilitas yang tidak tersentuh?.
C. Tujuan dan Urgensi Penelitian
Alasan pemilihan obyek kajian di Pesantren adalah karena selama ini pesantren hampir terlalu menutup diri dengan hanya berkutat pada ilmu-ilmu agama seperti ushul fiqh, tauhid, nahwu-shorof, akhlaq, tasawuf, dsb. Meski memang pada beberapa tahun terakhir telah benyak pesantren yang mulai membuka diri dengan memasukkan beberapa materi pendidikan didalammya. Seperti diantaranya bhs. Inggris yang sempat ditabukan oleh beberapa lembaga pondok pesantren.
Urgensi penelitian ini tidak terlepas jauh dari tujuannya. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum perkembangan Teknologi Informasi di lingkungan Pesantren.
Dan secara khusus bertujuan:
· Mengetahui proses pengembangan Teknologi Informasi di Pesantren.
· Mengetahui dampak Teknologi Infomasi bagi pesantren.
· Mengajak kalangan pesantren untuk lebih melek Teknologi Informasi dengan tanpa melunturkan nilai-nilai kepesantrenan.
D. Kajian Kepustakaan
Pengkajian tentang pesanten tidak pernah berhenti dan terus saja ada. Bahkan dalam salah satu tulisanya Khaleda Zed A. mengatakan bahwa Library is Laboratorium[8].
Selama ini telah banyak penelitian dan buku-buku yang mengkaji Pesantren dari berbagai perspektif. Secara histories pesantren banyak diartikulasikan dalam karya-karya, seperti, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia[9], Pondok Pesantren dalam Perkembangan Sejarah[10], dll. Begitu pula kajian pesantren dari sudut-sudut pesantren yang lain.
Namun kajian mengenai Pesantren dan Teknologi agaknya masih sangat minim. Karena sampai sekarangpun peneliti belum menemukan satupun hasil penelitian mengenai materi kajian ini.
Key word: Teknologi Informasi, Pesantren Raudlatuth Thalibin, Pesantren Maslakul Huda
E. Pendekatan dan Metode
Jenis penelitian ini adalah gabungan antara penelitian lapangan (field research) dan penelitian pustaka (library research). Adapun penerapannya adalah pertama mengumpulkan data-data atau sumber-sumber pustaka yang berhubungan dengan sosiologis-antropologis-historis pesantren terkait. Sebagai langkah untuk mencari identitas utama pesantren sebelum dan sesudah masuknya Teknologi Informasi di lembaga tersebut. Kemudian sumber-sumber lapangan sebagai obyek penelitiaan yang selanjutnya dianalisis menggunakan kerangka teoritik sumber-sumber pustaka.
Tipe penelitian ini adalah deskriptif-analitis-komparatif. Aspek deskriptif penelitian ini terletak pada proses elaborasi data tentang pesantren dan pemaparkan data lapangan tentang pesantren Raudlatuth Tholibin, Leteh-Rembang dan pesantren Maslakul Huda, Kajen-Pati. Data-data yang akan diorganisir adalah data-data yang terkumpul baik berupa literer, hasil wawancara maupun observasi.
Selanjutnya deskripsi fenomena lapangan tersebut dianalisis dengan sumber dan kerangka teoritik data dengan berbagai pendekatan, taitu pendekatan filosofis, geografis, sosiologis, antropologis dan historis, sebagaimana akan dijelaskan pada pragraf selanjutnya. Dalam tahap analisa data lapangan, juga dilakukan komparasi antara data lapangan kedua pesantren tersebut.
Kemudian, penelitian ini menggunakan pendekatan filosofis, geografis, sosiologis, antropologis dan historis. Mengkaji muatan pengembangan Teknologi Informasi yang diaplikasikan di pesantren merupakan obyek kajian filsafat. Pengkajian tentang geografis pesantren merupakan kajian dari geografi, dengan alasan letak geografi suatu daerah sangat berperan dalam pembentukan pola-perilaku masyarakatnya. Kemudian mengkaji perubahan yang terjadi pasca masuknya Teknologi Informasi di pesantren merupakan obyek kajian sosiologi. Pengkajian tentang budaya yang terbentuk di pesantren merupakan obyek kajian antropologi. Dan pelacakan data-data sejarah tentang asal-usul pesantren merupakan obyek dala pendekatan historis.
Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penilitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif menurut Sugiyono adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsfat positivisme, digunakan untukk meneliti pada kondisiobyek alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpul data dilakukan secara trigulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebihmenekankan makna daripada generalisas[11]i. Metode kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya diakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting): disebut juga dengan metode etnographi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian antropogi budaya: disebut sebagai metode kualitatif karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif[12].
Sebelum menjelaskan langkah-langkah pengumpulan data perlu ditegaskan terlebih dahulu beberapa pihak yang menjadi obyek penelitian serta teknik pengambilan datanya.
1. Kiai sebagai sumber penting dalam pesantren yang diasuhnya, jika hanya satu maka tidak perlu disampel. Jika lebih maka akan dilakukan sample satu orang yang dianggap paling representative di pesantren terkait. Teknik pengambilan datnya dengan interview, mserta mendengarkan hail ceramah dan dokumentasi-dokumentasi yang berisi ceramah dan pemikirannya yang berkaitan dengan Teknologi Informasi.
2. Unsur Ustadz, atau pengelola Teknologi Informasi. Jika jumlahnya banyak maka akan dilakukan sample seperti di atas terutama mereka yang representative dalam materi ini. Teknik pengambilan datanya dengan interview dan pengolahan data dokumentasi Teknologi Informasi di Lembaga tersebut.
3. Unsur santri dipilih yang tidak, sedang dan pernah mendapatkan pembinaan mengenai Teknologi Informasi. Adapun teknik pengambilan sampelnya dilakukan secara random sampling dan teknik pengambilan datanya berupa interview dan penyebaran angket.
Kemudian langkah awal yang ditempuh adalah penyusunan angket dan pedoman interview, yang diiringi kegiatan pegumpulan data. Untuk menghimpun data keseluruhan peneliti menggunakan empat macam alat/metode pengumpulan data yaitu:
1. Angket terdengan tipe terbuka, yakni pertanyaan tertebtu yag jawabbya tidak bias diterka oleh peneliti. Yaitu pertanyaan-pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya berbentuk uraian tentang suatu hal.
2. Interview, dengan tipe tidak berstruktur. Yaitu wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman yang digunakan hanyalah garis-garis besar permasalaham yang akan ditanyakan.
3. observasi, metod ini digunakan dari awal hingga akhir penelitian untuk mengumpulkan data lapangan.
F. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih fokus, maka peneliti memberi batasan-batasan tertentu. Antara lain: penelitian ini dibatasi pada pesantren Maslakul Huda, Pati dan pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang. Dan penelitian ini berlangsung dan digunakan dalam kurun waktu satu tahun
Adapun permasalahannya peneliti batasi dalam proses pengembangan Teknologi Informasi dalam pesantren sekaligus dampaknya.
G. Kontribusi Ilmiah
Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada kajian kepesantrenan, terutama di bidang pegembangan Teknologi Informasi. Sekaligus memberi wacana baru bagi dunia pesantren tentang manfat serta optimalisasi Teknologi Informasi bagi perkembangan pendidikan pesantren serta peningkatan kualitas santri yang selama ini cenderung stagnan.
H. Sistematika Pembahasan
Bab pertama adalah pendahuluan yang memuat gambaran sekilas tentang social-budaya pesantren yang sangat berpengaruh pada pola pikirnya, sehingga berpengaruh pula pada bagaimana respon mereka terhadap perkembangan Teknologi Informasi. Disamping itu dalam bab ini juga akan ditegaskan pembatasan masalah, tujuan dan urgensi penelitian, kajian pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian dan sistematika pembahasannya.
Bab kedua, merupakan tinjauan tentang pesantren secara umum beserta unsur-unsur budaya yang menyertainya. Mulai dari tinjauan terminologis, gambaran sejarah lahir dan berkembangnya pesantren di Indonesia khususnya Jawa Tengah bagian timur.
Bab ketiga, membahas tentang Teknologi Informasi. Mulai dari tinjauan terminologis, sejarah perkembangannya di Indonesia serta pengaruhnya terhadap tatanan kehidupan, khususnya tatanan hidup pesantren yang disebut-sebut sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia .
Bab keempat, pembahasan ini merupakan diskripsi sosiologis, historis dan antropologis pesantren Raudlatuth Tholibin, Leteh-Rembang dan Pesantren Maslakuk Huda, Kajen-Pati. Diskripsi ini bertujuan menyingkap unsur tradisi yang ada didalamnya. Unsur-unsur tersebut meliputi tradisi keagamaan, ajaran etika, struktur, dan hubungan antar penghuni pesantren. Sekaligus melacak sejarah munculnya Teknologi Informasi di kedua Lembaga tersebut.
Bab kelima, kajian ini difokuskan pada urgensi Teknologi Informasi di Pesantren. Salah satunya sebagai factor penunjang proses pembelajaran disana.
Bab keenam, merupakan kajian utama dalam penelitian ini, yakni perbandingan pengelolaan Teknologi Informasi serta dampaknya bagi perkembangan di dua pesantren tersebut. Masing-masing memiliki kecenderungnan berbeda pada proses pengembangannya karena setiap pesantren memiliki cirri khas dan karakteristik masing-masing.
Ketujuh, berisi tentang kesimpulan dari kajian tentang proses pengembangan dan dampak Teknologi Informasi di dua pesantren diatas.
Daftar pustaka
Arifin, H H., Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Yogyakarta : Rieneke Cipta,1999
Bulletin Ukhuwwah edisii/th xxii/2007
Faiqoh, Nyai Agen Perubahan di Pesantren, Jakarta : Kucica, 2003
Nafi’, M. Dian dkk., Praksis Pembelajaran Pesantren, Yogyakarta : Forum Pesantren, 2007
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B, Bandung : Alfabeta, 2008, cet. 5
http://www.sampoernafoundation.org/content/view/1287/342/lang,id/
http://www.republika.co.id/koran/0/44583/Pesantren_Perlu_Kuasai_Internet
http://www.maslakulhuda.net/index.php?option=com_content&task=view&id=4
[1] Faiqoh, Nyai Agen Perubahan di Pesantren, ( Jakarta : Kucica, 2003), hlm: 139
[2] H H. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Yogyakarta: Rieneke Cipta,1999), hlm 250
[3] Bulletin Ukhuwwah edisii/th xxii/2007
[4] M. Dian Nafi’ dkk., Praksis Pembelajaran Pesantren, ( Yogyakarta : Forum Pesantren, 2007), hlm. 11.
[5] http://www.sampoernafoundation.org/content/view/1287/342/lang,id/ , lihat pula dalam http://www.republika.co.id/koran/0/44583/Pesantren_Perlu_Kuasai_Internet
[6] Lihat http://www.republika.co.id/koran/0/44583/Pesantren_Perlu_Kuasai_Internet
[7] Lihat http://www.maslakulhuda.net/index.php?option=com_content&task=view&id=4
[8] Bulletin Ukhuwwah edisii/th xxii/2007
[9] Marwan Saridjo dkk. (ed), Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, ( Jakarta : Penerbit Dharma Bhakti, 1982
[10] Ahmad Janan Asifudin, Pondok Pesantren dalam Perkembangan Sejarah, (Al-Jamiah, 1994)
[11] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B, ( Bandung : Alfabeta, 2008), cet. 5, hlm. 9.
[12] Ibid, hlm. 8
aku hanya ingin bercerita pada semilir angin malam yang bahkan meninggalkanku kalaku gagu,
aku ingin ceritakan ngiluku yang tak kunjung lalu,
lalu ku berlari mencari cerahnya hari dibalik gelap malam yang tak lekas usai,
usai semua tatkala ku tak lagi mampu bercerita pada siapa……….
akhirnya, yang bukan akhir.
akhirnya, bukan yang terakhir
karena akhirnya adalah awal untuk mengawal bukan mengakhiri